Korban Monas Testimoni di Jogja

JOGJA - Sejumlah korban kekerasan di Monas melakukan testimoni di Jogja. Mereka menceritakan peristiwa yang mereka alami itu. Harapan mereka, informasi ini disampaikan kepada masyarakat sehingga tahu yang sebenarnya terjadi.

"Kami keliling ke kota-kota seperti Bandung, Jogja, Surabaya dan Bali untuk bertemu kawan-kawan wartawan. Kami ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, apa yang terjadi pada 1 Juni di Tugu Monas. Tolong ini disampaikan kepada masyarakat, agar mereka juga mengetahui," pinta Nino Graciano, salah seorang korban peristiwa Tugu Monas di University Center (UC) UGM kemarin.

Ada empat korban kekerasan Monas yang melakukan testimoni ini. Selain Nino ada Ni Nyoman Aisiyah Bibuty, Bernhard dan Eric. Mereka difasilitasi oleh National Integration Movement (NIM), sebuah lembaga yang bergerak dalam upaya "menghidupkan" kembali Pancasila.

Nino adalah anggota NIM, bersama kawan-kawannya dari NIM, dia ikut bergabung dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), untuk menggelar aksi damai memperingati Hari Pancasila, 1 Juni lalu, di Tugu Monas, Jakarta.

Masyarakat saat ini banyak yang lupa terhadap Pancasila, tambah Nino, atas dasar itulah AKKBB menggelar aksi damai, agar masyarakat mengingat kembali jasa-jasa para pejuang dan pendiri negara Indonesia. "1 Juni itu bukan masalah agama, tapi masalah negara yang berlandaskan Pancasila. Para pendiri bangsa dan para pejuang negeri ini," tandasnya.

Di tengah aksinya AKKBB diserang oleh anggota Front Pembela Islam (FPI) tanpa alasan yang jelas. Akibat serangan itu, Nino mengalami luka memar di punggung dan anggota badan yang lainnya, hingga sekarang Nino juga tidak dapat menjalani aktivitas seperti biasa.

Nino menuntut semua organisasi yang melakukan kekerasan dan berlandaskan kekerasan dibubarkan termasuk FPI. Karena apa yang dilakukan FPI tidak mencerminkan perilaku agama Islam, karena selama ini dirinya mengetahui secara pasti bahwa Islam tidak pernah mengajarkan cara-cara kekerasan. "Saya ini orang Islam, saya tahu betul bagaimana perilaku orang Islam," katanya dengan nada sedih.

Hal yang sama juga diungkapkan Ni Nyoman Aisiyah Bibuty, ia menyayangkan perilaku anggota FPI yang mengatasnamakan agama dengan memperlakukan perempuan seenaknya sendiri. "Saya dipukul bagian kepala belakang, didorong-dorong, ditendang berkali-kali. Saya ini perempuan, mengapa saya tetap dipukul dan didorong-dorong," jelas perempuan asal Bali ini.

Sumber berita: Radar Yogya - JawaPos, Senin, 16 Juni 2008