Kekerasan aktivis FPI terhadap Wanita (Oming)



Ni Nyoman Aisanya Wibhuti atau yang dipanggil Oming merupakan anggota dari National Integration Movement (NIM) atau Gerakan Integrasi Nasional. Wanita ini menjadi korban pada peristiwa Monas 1 Juni 2008 yang dipukul oleh FPI.

Tetapi FPI berkali-kali menyangkal bahwa telah melakukan kekerasan kepada wanita. Video ini dibuat agar masyarakat tahu informasi yang sebenarnya. Korban sendiri yang bersaksi melalui video ini sekaligus untuk memberi kesadaran kepada masyarakat bahwa kekerasan bukanlah sebuah solusi. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Tetapi... Cinta... Hanya Cinta satu-satunya solusi.

http://www.nationalintegrationmovement.org Selengkapnya...

Kekerasan aktivis FPI terhadap Wanita (Isti)



Istiqomah Hastari, seorang wanita, partisipan dari Gerakan Islam Anti Kekerasan (Gema Istisan) atau Islamic Movement for Non Violence (IMN) menjadi korban penganiayaan aktivis FPI di ruang pengadilan Jakarta Pusat pada tanggal 28 Agustus 2008.

Mereka (FPI) menyangkal perbuatan tersebut padahal videonya dengan jelas memperlihatkan adegan penganiayaan tersebut. Ucapan mereka sangat tidak sesuai dengan prilaku yang diperlihatkan.

Banyak aparat kepolisian yang melihat dan seperti mendiamkan saja kejadian tersebut. Pelakunya sama sekali tidak ditangkap. Ini karena kita semua diam dan tidak perduli. Sikap kita inilah yang membuat aparat kita mendiamkan kejadian ini.

Semoga dengan video ini, masyarakat dapat melihat kejadian sesungguhnya dan sadar untuk kemudian bersama-sama bersuara, bertindak melawan kekerasan atas nama apapun. Selengkapnya...

Kejanggalan saat Berita Acara Penyidikan

Saya sebagai korban tragedi Monas 1 Juni 2008 merasa terjadi suatu kejanggalan saat melakukan BAP di Polda Metro Jaya. Sebagai korban saya diminta datang sebagai saksi ke Polda untuk ke tiga kalinya. Yang pertama saya lakukan pada hari yang sama dengan tragedi yakni 1 Juni 2008 jam 11.00, hingga selesai 2 Juni jam 02.30 pagi. Pemanggilan kedua saya lakukan pada sekitar seminggu berikutnya dan pemanggilan ke tiga tanggal 1 July 2008 jam 12.00 ( pemanggilan ketiga untuk mengenali dari 7 wajah tersangka pelaku tindakan kekerasan, yang pada saat kejadian dapat berjumlah ratusan orang). Hingga pemanggilan ketiga ini saya, belum pernah melihat 58 pelaku yang ditangkap oleh pihak kepolisian tanggal 3 Juli.

Saat saya bertanya untuk melihat photo wajah ke 58 orang yang pernah ditangkap, pihak kepolisian menjawab tidak bisa karena photo sudah tidak ada dibagian mereka. Kemudian saya tanyakan lagi dapatkah dibantu untuk diminta kebagian yang menyimpannya. Jawaban yang sama terucap, bahwa tidak bisa. Saya menegaskan kepada penyidik, bahwa saya adalah korban, yang mungkin dapat mengenali orang-orang yang pernah ditangkap oleh kepolisian. Namun penyidik tetap mengatakan tidak bisa. Saya bingung dan sempat beragumen.

Argumen penyidik menyatakan tetap tidak bisa, karena saat ini sedang fokus kepada 7 orang yang telah menjadi tersangka. dan mereka yang telah kembali dibebaskan mempunyai alibi bahwa mereka tidak ada di monas. Saya kembali mengatakan, "Pak itukan alibi mereka, bagaimana dengan saya sebagai korban. Saya saja belum melihat mereka, bahkan photonya tidak Bapak perlihatkan. Mungkin saja dari puluhan orang yang dilepaskan saya mengenali wajah mereka". Bapak Penyidik tersebut tetap tidak mau perlihatkan. Hal ini sungguh aneh.

1. Mengapa saya tidak bisa melihat photo-photonya mereka yang telah ditangkap dan dibebaskan.
2. Bukankah hak korban untuk melihat dan membantu kepolisian untuk menjaga keamanan?
3. Haruskah terdapat sebuah larangan bagi para korban kekerasan, untuk tidak melihat photo-photo yang pernah ditangkap oleh kepolisian.

Beberapa hal yang agak janggal lainnya adalah dibebaskannya pelaku yang telah diidentifikasi oleh korban, dimana saat pengidentifikasian dilakukan tanpa kaca gelap. Sehingga korban, teman saya wanita, harus bertatap muka dengan pelaku kekerasan yang dibatasi dengan kaca bening. Apakah Kepolisian tidak pernah memikirkan efek Psikologis dan traumatis para korban?mengapa begitu tidak ada empati kepada korban untuk tata cara pengidentifikasiannya.

Kemudian penanganan saat BAP korban yang mengalami trauma - wanita, tidaklah menunjukan sikap empati. Korban dilayani dengan kejantanan dan ketegasan polisi, yang saat itu membuat stress korban yang harus mengingat kembali kejadian kekerasan yang menimpanya. Sehingga korban meneteskan air mata, dalam keadaan tersebut pula penyidik tetap tidak memperlihatkan rasa empati atau pun rasa aman korban.

Inikah potret keprofesionalan Kepolisian kita ?

Nino Graciano
Selengkapnya...

Pesan untuk Bapak Menteri Kehutanan

Sehubungan dengan kasus Tragedi Monas 1 Juni, dimana anak2 kita digebuki oleh para penjahat tak bermoral, mohon Yang Mulia Bapak Menteri tidak membela para pelaku.

Para pelaku, otak mereka, komandan lasykar2 mereka, khususnya Riziek dan Munarman mesti dihukum. Perhatikan statement mereka di teve setelah serangan yang mereka lakukan itu. Begitu arogan! Sekarang mengaku sedang mengaji saat terjadi tragedi itu.

TIDAK. RAKYAT INDONESIA TIDAK DAPAT DIBODOHI LAGI. KAMI, BANGSA INDONESIA TERLUKA DAN MERASA DILECEHKAN MARTABAT KAMI OLEH PARA PEMBELAS PARA PELAKU AKSI KEKERASAN.

MOHON luka-luka kami tidak dilecehkan. Mohon sentimen kami tidak dipermainkan. Mohon Yang Mulia Bapak Menteri selaku pejabat negara membela mereka yang ditindas, bukan mereka yang menindas.

INDONESIA SUDAH BANGKIT DAN TAK AKAN PERNAH TIDUR LAGI. PARTAI2 DAN OKNUM2 YANG MENCIDERAI CITRA INDONESIA ADALAH PENGKHIANAT BANGSA.

Mohon pengertian, pemahaman, dan diatas segalanya kesadaran Yang Mulia Bapak menteri.

Wassalam,
anand krishna
Selengkapnya...

Nino Graciano

Selengkapnya...

Suara-suara yang Bertahan

Perjuangan antikekerasan - ahimsa - yang dihembuskan Mohandas Karamchand Gandhi mengambil bentuknya lagi awal Juni ini. Langit Jakarta memayungi ketika mimpi setiap anak bangsa akan dunia nirkekerasan dipasung lagi.

Semua media massa mewajahkan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang lewat suara, gambar, dan tulisan. Persis pada peringatah Hari Kelahiran Pancasila, sesama saudara sebangsa memulai perangnya.

Namun, di tengah hiruk-pikuk siapa tuding siapa, siapa membeking siapa, suara-suara korban makin sayup terdengar. Padahal, rintihan itu bisa jadi ekspresi paling jujur di tengah pipa besi, pentungan, dan tangan-tangan yang membekap mulut korban.

Masih diselubungi trauma Juni lalu, Nyoman Aisanya Wibuthi, salah seorang korban yang ikut berpartisipasi dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), memulai pengakuannya, Sabtu (14/6).

Perempuan yang akrab dipanggil Oming ini hadir bersama Nino Grasiano dan Bernardus Winarno yang juga menjadi korban dalam peristiwa di Monas. Ketiganya bergabung sebagai relawan National Integration Movement (NIM).

"Saya benar-benar merasaseperti terapi kejut ketika kepala bagian belakang saya dipukul,"ujar Oming yang sehari-hari bekerja di Jakarta. Dalam kondisi chaotic seperti itu, ujarnya, ia teringat bahwa dia perempuan. Dalam sebuah perang, tuturnya, ada sebuah kode etik bahwa perempuan dan anak kecil tidak boleh disakiti.

Lahir di keluarga Hindu, kata Oming, meyakinkannya bahwa perempuan adalah Ibu. Namun, bangsa ini sekali lagi telah menyesah seorang ibu dengan pipa besi dan kemarahan.

Bagi Oming, kekerasan yang terjadi di Monas bukan semata kekerasan fisik."Ada yang salah dengan masyarakat kita. Bagaimana bisa seseorang punya kebencian begitu besar terhadap yang lain?" tanyanya.

Kekerasan fisik kemudian menjadi sebuah senjata untuk mengobarkan kebencian, meniadakan yang lain, memastikan diri sebagai pemenang.

Padahal, Oming percaya, kekerasan 1 Juni menjadi bukti berapa kali bangsa ini sudah kalah karena lingkaran kekerasan.

Kedamaian.
"Semua wanita dan anak-anak dipukul. Sekujur tubuh saya luka. Sampai sekarang dada masih sakit kalau bernafas,"ujar Nino Graciano. Ingatannya masih segar tentang peristiwa yang membuatnya makin percaya gerakan antikekerasan harus terus digulirkan. Bagi Nino, apa yang terjadi 1 Juni lalu bukanlah isu penodaan agama. Dengan tegas, ia mengatakan, inilah kekerasan terhadap sesama anak bangsa.

Untuk meretasnya, tak ada cara lain selain berdialog? "Oh, tentu, Mengapa tidak?" tegas Nino. Gandhi dan gerakan ahimsa-nya yang menggerakkan seluruh India, kata Nino, mewujud lagi sekarang di Indonesia. Bukan dengan diam, namun dengan bersuara, dengan bertahan pada hal-hal yang kecil.

Pria yang sehari-hari bekerja di sebuah event organizer di Jakarta ini percaya, lingkaran kekerasan bisa dipatahkan lewat hal-hal kecil. Bersama NIM, ia menggiatakan "hal-hal kecil" itu, seperti menggelar pusat pemulihan stres keliling pascagempa.

Nino percaya semua orang bisa mencintai Indonesia dengan cara masing-masing. Bahkan , 1 Juni lalu, ia dan teman-teman seharusnya bernyanyi Damai Indonesia/ Bersatu Indonesia/yo yo yo Indonesia...

Lagu itu bahkan tak sempat digaungkan, keburu pipa besi menghantam mulut-mulut yang masih menyuarakan harapan. Nino tetap percaya cinta tidak diwujudkan lewat kekerasan. Siapa pun yang cinta negeri ini, walaupun hanya pada identitas-identitas suku, agam, ras, kelamin, dan golongan, tidak akan mencetak kekerasan pada kulit sesamanya. (A11)

Sumber KOMPAS Jateng-DIY, Selasa, 17 Juni 2008
Selengkapnya...

Korban Monas Testimoni di Jogja

JOGJA - Sejumlah korban kekerasan di Monas melakukan testimoni di Jogja. Mereka menceritakan peristiwa yang mereka alami itu. Harapan mereka, informasi ini disampaikan kepada masyarakat sehingga tahu yang sebenarnya terjadi.

"Kami keliling ke kota-kota seperti Bandung, Jogja, Surabaya dan Bali untuk bertemu kawan-kawan wartawan. Kami ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, apa yang terjadi pada 1 Juni di Tugu Monas. Tolong ini disampaikan kepada masyarakat, agar mereka juga mengetahui," pinta Nino Graciano, salah seorang korban peristiwa Tugu Monas di University Center (UC) UGM kemarin.

Ada empat korban kekerasan Monas yang melakukan testimoni ini. Selain Nino ada Ni Nyoman Aisiyah Bibuty, Bernhard dan Eric. Mereka difasilitasi oleh National Integration Movement (NIM), sebuah lembaga yang bergerak dalam upaya "menghidupkan" kembali Pancasila.

Nino adalah anggota NIM, bersama kawan-kawannya dari NIM, dia ikut bergabung dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), untuk menggelar aksi damai memperingati Hari Pancasila, 1 Juni lalu, di Tugu Monas, Jakarta.

Masyarakat saat ini banyak yang lupa terhadap Pancasila, tambah Nino, atas dasar itulah AKKBB menggelar aksi damai, agar masyarakat mengingat kembali jasa-jasa para pejuang dan pendiri negara Indonesia. "1 Juni itu bukan masalah agama, tapi masalah negara yang berlandaskan Pancasila. Para pendiri bangsa dan para pejuang negeri ini," tandasnya.

Di tengah aksinya AKKBB diserang oleh anggota Front Pembela Islam (FPI) tanpa alasan yang jelas. Akibat serangan itu, Nino mengalami luka memar di punggung dan anggota badan yang lainnya, hingga sekarang Nino juga tidak dapat menjalani aktivitas seperti biasa.

Nino menuntut semua organisasi yang melakukan kekerasan dan berlandaskan kekerasan dibubarkan termasuk FPI. Karena apa yang dilakukan FPI tidak mencerminkan perilaku agama Islam, karena selama ini dirinya mengetahui secara pasti bahwa Islam tidak pernah mengajarkan cara-cara kekerasan. "Saya ini orang Islam, saya tahu betul bagaimana perilaku orang Islam," katanya dengan nada sedih.

Hal yang sama juga diungkapkan Ni Nyoman Aisiyah Bibuty, ia menyayangkan perilaku anggota FPI yang mengatasnamakan agama dengan memperlakukan perempuan seenaknya sendiri. "Saya dipukul bagian kepala belakang, didorong-dorong, ditendang berkali-kali. Saya ini perempuan, mengapa saya tetap dipukul dan didorong-dorong," jelas perempuan asal Bali ini.

Sumber berita: Radar Yogya - JawaPos, Senin, 16 Juni 2008

Selengkapnya...